Kontrol PID (Episode 1)

Dalam bidang instrumentasi dan kontrol, PID (Proportional–Integral–Derivative) sudah tiidak asing lagi para engineer maupun teknisinya. Jenis pengontrolan ini merupakan yang tertua dan paling sering digunakan di Indonesia. Kontrol PID merupakan sistem pengontrolan untuk menentukan presisi suatu sistem instrumentasi dengan karakteristik adanya umpan balik (feedback) pada sistem tesebut. Ada 3 jenis bagian/komponen dari kontrol PID antara lain Proporsional, Integral, dan Derivative.

Untuk yang pertama kita bahas mengenai Kontrol Proporsional. Persamaan matematisnya kita gambarkan sebagai berikut:

U(t)= Kp e(t)

Dari persamaan diatas Kp merupakan gain/penguatan dan e(t) sebagai error steady state. Penambahan Kp membuat suatu sistem menjadi lebih sensitif dan tidak stabil sehingga settling time menjadi lambat.

Settling time merupakan ukuran waktu yang menyatakan respon telah masuk ±5%, atau ±2%, atau ±0.5% dari keadaan steady state.

Kira-kira apapengaruhnya terhadap suatu sistem apabila diterapkan kontrol P tersebut:

– Kp kecil : koreksi kesalahan keccil dan respon sistem lambat

– Kp dinaikkan: respon semakin cepat menuju mantap

– Kp berlebih: Sistem menjadi tidak stabil sehingga sistem berosilasi, settling time menjadi lambat.

 

(Diambil dari berbagai sumber)

Site Acceptance Test dan Commissioning

Awal tahun dan pertengahan tahun 2014 merupakan hari-hari yang cukup sibuk dikarenakan pekerjaan sudah memasuki tahap puncak yaitu proses SAT (Site Acceptance Test) dan Commissioning. Pekerjaan tersebut cukup melelahkan dan menyita waktu, apalagi proyek yang berjalan hampir bersamaan (penulis melakukan hampir 3-4 proyek sekaligus).

Nah, mungkin banyak dari kita tidak tahu apa sih istilah SAT dan commissioning itu. Saya akan berusaha sedikit menjelaskan. SAT adalah pengujian performa on site /dilokasi untuk memastikan peralatan/aplikasi berfungsi sesuai yang diinginkan user. Pada intinya SAT adalah pengujian yang dilakukan dilokasi pengguna, setelah peralatan/aplikasi dikirim sebelum dilakukan instalasi. Commissioning merupakan serangkaian kegiatan pemeriksaan dan pengujian instalasi yang telah selesai dikerjakan dan hendak akan dioperasikan. Dengan hasil pemeriksaan dan pengujian yang baik, maka diyakini bahwa instalasi listrik aman pada saat dioperasikan.

Perusahaan-perusahaan besar pasti melakukan tahap-tahap tersebut karena merupakan syarat mutlak. Apabila tidak dilaksanakan maka dapat dipastikan keamanan fasilitas yang baru dipasang tersebut tidak menjamin aman.

Setelah melihat dan mengamati pekerjaan tersebut, saya jadi tertarik dengan pekerjaan commissioning. Kapan-kapan kita bahas mengenai commissioning engineer. Karena setahu saya para Commissioning Engineer duitnya deras.. $$$$..

Pengalaman Menjadi Control System Engineer

Control System merupakan suatu instrument baik software maupun hardware yang digunakan untuk mengontrol suatu equipment atau sistem tertentu. Kebetulan saya banyak bersentuhan dengan bidang Migas dan pertambangan. Kalau di migas kita bisa mencontohkan operator yang mengendalikan bukaan atau menutup control valve melalui touchscreen interface (HMI). Nah, disitu lah saya membantu meng-create software dan hardware untuk project control system.

Control system biasanya terkait dengan sistem PLC, DCS, SCADA, dan lain sebagainya. Kalau dulu control system masih menggunakan murni hydarulic atau pneumatic control, sekarang banyak yang sudah dialihkan ke elektrikal maupun gabungan kontrol elektrikal dan pneumatic/hydraulic. Keuinikan kontrol system ini adalah cepatnya perkembangan teknologinya. Terutama apabila berhubungan dengan software-nya. Umumnya orang-orang yang bekerja di bidang control system adalah dari jurusan teknik fisika, elektro, fisika instrumentasi, dan sebagian dari IT.

Kawan-kawan control system pasti tidak asing dengan yang namanya PLC beserta merek-mereknya seperti Allen Bradley, Schneider, Siemens, Omron, Mitsubishi, dst, Kemudian DCS seperti Honeywell, Yokogawa, DeltaV, dst, lalu ada HMI seperti Wonderware, Citect, Ifix, dst. Belum lagi instrument-instrument seperti transmitter, control valve, dan lain sebagainya.

Selama kurang lebih 3 tahun ini saya banyak berkecimpung di bidang tersebut. Pada tahun-tahun pertama saya banyak bermain di PLC dan HMI terutaa merek Allen Bradley dari Rockwell Automation. Pekerjaan yang paling seringsaya lakukakn adalah troubleshooting PLC atau HMI merek tersebut. Pengalaman sebagai technical specialist banyak membantu saya memahami product dari merek tertentu secara mendalam. Berbagai level product dari Rockwell Automatation banyak saya pelajari secara otodidak karena disana banyak sekali instrumen-instrument yang bisa dicoba-coba. Jadi saya tidak asing dengan PLC jenis ControlLogix, CompactLogix, MicroLogix, SLC, kemudian HMI-nya seperti FTView SE dan FTView ME.

Setelah itu saya pindah di perusahaan lain yang masih bermain dengan bidang control system tapi merupakan salah satu perusahaan kontraktor contruction untuk control system. Diperusahaan kedua ini saya belajar banyak mengenai dokumentasi engineering, kemudan hardware dan software control system lintas merek. Ada tiga sampai empat merek saya pernah pelajari disini. Kebetulan banyak project berhubungan dengan migas, jadi untuk wilayah offshore sudah tidak asing lagi. Perusahaan-perusahaan jenis ini memang banyak menuntut para engineernya untuk mengembangkan diri secara otodidak. Hal itu terjadi seiring waktu dengan berjalannya project yang ada.

Factory Acceptance Test (FAT) Wellhead Control Panel (WHCP)

Beberapa waktu yang lalu saya bersama tim salah satu perusahaan kontraktor oil and gas beserta klien dari perusahaan Perancis di Indonesia melaksanakan FAT atau bahasa awamnya pengetesan alat oleh pembuat dan klien pemesan. Sangat menarik apa yang dilakukan karena disini saya banyak belajar mengenai cara kerja WHCP itu sendiri. Sebenarnya saya lebih banyak berkutat dalam Control System-nya yaitu penggunaan PLC dan HMI untuk penunjang pelaksanaan FAT tersebut. Tapi walau pun hanya penunjang apabila tidak ada control system WHCP juga tidak bisa beroperasi. 🙂

Kalau ingin lebih detail mengenai WHCP-nya bisa berkunjung ke alamat website senior saya http://www.whcp-oilgas.com/whcp-fat-factory-acceptance-test/

Berikut beberapa penampakan FAT WHCP yang kami  lakukan:

FAT WHCP

FAT WHCP

FAT WHCP Full Team

FAT WHCP Full Team

Cek Daleman WHCP

Cek Daleman WHCP

Leak Test WHCP

Leak Test WHCP plus tampilan HMI

Sekian…

Memahami Ingress Protection (IP)

IP Rating

IP Rating

Bagi para teknisi atau engineer instrumentation dan electrical mungkin sudah terbiasa mendengar istilah IP (Ingress Protection). Biasanya tertera pada material atau barang-barang electrical atau instrument yang dimaksudkan untuk menandai kemampuan proteksi barang atau material tersebut terhadap gangguan atau dampak dari luar. Disini akan saya coba fokuskan pada material enclosure atau panel.

Biasanya ada dua angka (digit) yang tertera pada system IP tersebut, yang pertama berhubungan dengan impact terhadap benda padat dan yang kedua impact terhadap liquid (cairan).

Berikut penjelasannya:

Pada angka pertama (proteksi terhadap benda padat):
0 : tidak ada proteksi
1 : tak dapat dimasuki benda lebih besar daripada 50 mm (misalnya kontak terhadap tangan manusia)
2 : tak dapat dimasuki benda lebih besar daripada 12 mm (misalnya kontak terhadap ujung jari)
3 : tak dapat dimasuki benda lebih besar daripada 2.5 mm (misalnya kontak terhadap kabel, perkakas, dll)
4 : tak dapat dimasuki benda lebih besar daripada 1 mm (misalnya kontak terhadap skrup, baut, kabel kecil, dll)
5 : tak dapat dimasuki debu (tetapi tidak mutlak)
6 : sama sekali tidak dapat dimasuki debu

Pada angka kedua (proteksi terhadap liquid):
0 : tidak ada proteksi
1 : tak dapat dimasuki air yang menetes dari atas
2 : tak dapat dimasuki air yang datang dari atas hingga 15° dari sumbu vertikal
3 : tak dapat dimasuki air yang datang dari atas hingga 60° dari sumbu vertikal
4 : tak dapat dimasuki air yang datang dari segala arah (tetapi tidak mutlak)
5 : tak dapat dimasuki air yang disemprot (tekanan rendah) dari segala arah (tetapi tidak mutlak)
6 : tak dapat dimasuki air yang disemprot (tekanan tinggi) dari segala arah.
7 : terlindungi dari rendaman air hingga 1 meter
8 : terlindungi dari rendaman air secara menyeluruh

Untuk contoh penerapannya, misalkan IP 42 berarti enclosure tersebut tidak dapat dimasuki benda lebih besar dari 1 mm dan tidak dapat dimasuki air yang dating dari atas hingga 15° dari sumbu vertical. Contoh kedua IP 55, berarti enclosure tersebut tidak dapat dimasuki debu (tetapi tidak mutlak) dan tidak dapat dimasuki air yang disemprot dengan tekanan rendah dari segala arah (tetapi tidak mutlak).