Aku dan Buku

Membaca buku sudah menjadi kebiasaanku dari kecil. Buku apa saja aku lahap walau terkadang aku sendiri kesulitan memahaminya. Wajar lah emang dari dulu emang agak lemot dalam memahami sesuatu. Mengoleksi buku sudah jadi hobi, bahkan mungkin ada beberapa buku yang hingga saat ini masih terbungkus dan belum terbaca. Kebiasaan buruk sih. Namun, dapat dipastikan paling tidak tiap seminggu harus menghabiskan satu buah buku untuk dilahap.

Membaca buku menurutku lebih menarik daripada membaca di internet atau lewat komputer. Buku bisa dibawa kemana-mana, tanpa takut nanti terinjak atau terbanting. Tiap dalam perjalanan pastilah aku selalu mebawa 1 atau 2 buah buku untuk dibaca diperjalanan. Yah, sambil mengisi kekosongan atau daripada bengong. Kebiasaan lain adalah aku sangat sering berkunjung ke toko buku walau terkadang cuma baca gratis, karena alasan dana.. hehehe..

Hobi membaca ini membuat kamarku penuh dengan buku-buku yang sepertinya cukup untuk dibuat perpustakaan mini. Mungkin ada sekitar 200an buku yang ada di beberapa tempat. Di Bandung paling banyak, karena dititipkan ke teman dulu sebanyak 4-5 kardus buku. Di Balikpapan mungkin ada sekitar 20 buah buku, lalu di Nganjuk ada 10-an buku, ditambah saat ini di Jakarta ada sekitar 8 buah buku baru. Belum lagi nantinya ditambah koleksi buku istri saya. Wuih jadi deh perpustakaan.

Masalah jenis bacaan saya suka apa saja baik buku agama, biografi, pemikiran, novel, sastra, parenting, dll semua ada. Jangan kaget ada sedikit cerita mengenai toko buku di bandung yang sempat saya jelajahi. Di jakarta pun saya juga sempat mampir ke beberapa toko buku. Dan aku terkadang tidak banyak berpikir menghabiskan uang untuk membeli buku dalam sekali belanja. Pernah malah sampai 500ribu. Tapi kalau sekarang agak dikurangi karena mesti hemat soalnya banyak tanggungan.

Membaca itu bisa membuat pikiran kita lebih terbuka, lebih berwawasan, dan tentu saja akan lebih tampak intelek. So, budaya membaca memang harus dibiasakan sejak dini. Mudah-mudahan nanti keluarga kecilku bisa menjadi keluarga yang mencintai ilmu dan buku.

Advertisements

Lelahnya Menyebrangi Teluk Balikpapan

Pernah naik ferry dari Balikpapan ke Penajam atau sebaliknya? Mungkin bagi yang sudah pernah akan mengelus-elus dada. Bayangkan saja perjalanan menyebrangi teluk yang seharusnya hanya dalam waktu 30-45 menit namun antrinya bisa sampai 3-5 jam apabila menggunakan kendaraan pribadi. Terjadi tidak hanya hari-hari libur namun juga hari-hari kerja biasa. Menurut saya seharusnya pemerintah daerah Balikpapan, Penajam Paser utara, dan Pemprov Kaltim segera menyelesaikan masalah ini. Terutama untuk jangka pendek. So, lupakan soal jembatan dulu. Benahi yang ada sekarang.

Kalau saya amati pelabuhan ferry di Kariangau-Balikpapan seharusnya bisa menampung 2 atau 3 dermaga untuk kapal ferry. Namun, kenyataannya yang bisa beroperasi hanya satu dermaga saja. Sangat jauh tidak seimbang antara kendaraan yang masuk dengan armada dan infrastruktur yang ada. Ini tugas Anda wahai para pemegang kekuasaan di wilayah ini. Saya menagih Anda.

Begitu juga dengan pelabuhan ferry di daerah Penajam. Antrian kendaraan menunggu dimuatnya ke dalam ferry menjadi pemandangan biasa. Uniknya antrian bisa sampai ruas-ruas jalan kota kecamatan Penajam. Pernah saya antri jam 11 malam dan baru naik jam 3 pagi. Padahal itu hari biasa bukan hari libur. Sungguh mengenaskan. Oiya, saran saya jangan lupa bawa cemilan dan minum agar tidak bosan menunggu.

Mudah-mudahan pembangunan dermaga baru oleh pemerintah yang katanya menghabisakan dana 30 miliar Rupiah segera diselesaikan sehingga memperlancar perekonomian penduduk dan memberikan kenyamanan bagi penggunanya termasuk saya yang rakyat jelata.