Mengenang Cita-Cita

Ketika masih kecil, kita sering ditanya orang tua, tetangga atau pun kerabat tentang cita-cita ingin menjadi apa. Dan biasanya dengan tegas dan penuh percaya diri kita menjawab “Aku ingin menjadi dokter!”, atau “Aku ingin menjadi tentara!”. Memasuki jenjang SMP mulai ada kebimbangan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Memasuki masa remaja (SMA) semakin membuat diri kita gelisah dan terkadang melupakan cita-cita saat masih kecil. Lalu membuat cita-cita baru yang sangat berbeda dari sebelumnya. Belum lagi memasuki masa kelulusan SMA kemudian gagal memasuki perguruan tinggi yang diinginkan, maka semakin jauhlah cita-cita kita di masa lalu itu.

Memang pada kenyataannya kebanyakan dari kita ‘tidak berhasil’ mencapai cita-cita tersebut. Saat umur bertambah pikiran untuk menggapai cita-cita semakin bertambah. Muncullah cita-cita baru yang disesuaikan dengan keadaan kita dan menjadi semakin “realistis”. Beban-beban di masa dewasa terus terngiang di dalam pikiran kita. Tidak sebebas saat kita masih kecil dimana belum memiliki beban hidup yang dipikirkan.

Setelah lulus kuliah, lagi-lagi kita akan dibingungkan dengan apa yang mesti dilakukan karena “kehilangan orientasi’ atau tidak memiliki “lagi” cita-cita. Akhirnya, jalan terakhir sebagai sarjana yang baru saja lulus adalah berusaha membuat “karya monumental” yaitu surat lamaran pekerjaan. Mungkin saja tidak lama setelah itu kita mendapatkan pekerjaan. Namun sekali lagi ternyata pekerjaan itu tidak sesuai dengan minat dan bakat sebenarnya.

Kita mungkin ingin menyekolahkan anak setinggi mungkin, bisa memperoleh pensiun dini, ingin berlibur di akhir tahun, membeli runah dalam waktu 2 tahun mendatang, membeli kendaraan tahun depan, dst. Tapi dalam kenyataannya tidak semuanya mencapai cita-cita yang sudah ditetapkan.

Salah satu penyebab gagalnya mencapai cita-cita adalah karena banyak orang yang hanya sekedar memiliki cita-cita namun tidak tahu bagaimana cara mencapainya. Itulah sebabnya, seseorang tidak hanya memerlukan cita-cita. Ia juga memerlukan sebuah cara bagaimana ia bisa mencapai cita-citanya itu.

“Sepuluh persen penduduk dunia menguasai 90% kekayaan dunia, sembilan puluh persen penduduk dunia merebutkan 10% sisanya”. ucap seorang ahli ekonom Italy. “Dan 10% persen orang tersebutlah yang memiliki cita-cita”‘.

6 thoughts on “Mengenang Cita-Cita

  1. asooooy, kena banget deh gua…

    gua,
    pas SD pengen jadi superhero…
    pas SMP pengen jadi pemaen bola…
    pas SMA pengen jadi musisi…
    pas awal2 kuliah pengen jadi pengusaha…
    menjelang lulus, pengen jadi papahnya anak2 aja deh…
    (semakin banyak beban, semakin realistis, hehee…)

  2. Satu pembelajaran dari ‘mengenang cita-cita’: merinci ‘bagaimana’ cara mencapainya

    kata teman saya,, memperbesar ‘mengapa’ juga faktor penting utk mencapai cita-cita

    begitu ‘mengapa’ sangaaat besar, ‘bagaimana’-nya (yg ternyata sangat banyak dan sulit itu, setelah kita rincikan) akan menjadi kecil ^^

  3. waktu kecil aq gak punya cita2 mao jadi apa..
    masuk sma aq pgn jadi psikolog..
    masuk kuliah psikolog aku gagal di tengah jalan..
    tapi malah jadi guru sekarang…
    ehm emang semua sudah di rencanakan sama Allah..n mungkin inilah jalan yang terbaik buat aq..
    postingan motivasi mengenang masa lalu yang tak tergapai…

    • jalan hidup memang sudah ditentukan.. tapi pilihan2 itu ada.. dan ikhtiar plus doa merupakan salah satu kunci dalam menggapai cita2 kita..

      terima kasih sudah kemari mbak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s