Sekelumit Obrolan dengan Dosen Wali

Selasa, 19 Januari 2010 sekitar pukul 9 pagi saya sedang perwalian dengan dosen wali. Banyak hal yang dibicarakan, namun bukan masalah kuliah saya yang banyak dibahas, tapi mengenai permasalahan bangsa dan individu-individunya. Yang paling menarik adalah setelah saya mengatakan bahwa Final Project saya tentang Riset Operasi (Operation Research), beliau langsung nyambung ke pembicaraan tentang integrated scince and technology.

Mengenai integrated scince and technology, beliau mengatakan bahwa permasalahan kita sebagai individu Indonesia adalah mengenyampingkan masalah integrated ini. Banyak diantara kita yang terlalu fokus di satu bidang tanpa menghiraukan bidang lain. Ini bukan zamannya James Watt, Einstein, dsb, yang bekerja sendiri-sendiri. Namun sekarang adalah zamannya integrasi berbagai ilmu. Mudah-mudahan kita sadar akan hal itu.

Pola pikir “kuno” yang masih terpakai ini sebenarnya juga sudah akut dan merasuk kepada sebagian besar kaum berpendidikan di negeri kita, termasuk para decision maker. Misal, seorang saintis yang ahli di bidang energi alternatif, ia tidak mungkin sendirian dalam bereksperimen. Ia membutuhkan ilmu lain yang dapat menunjang keberlangsungan penelitiannya. Tapi yang terjadi adalah kebanyakan saintis kita tidak berpikir sampai kesana. Mereka cerdas, tapi pola pikirnya yang masih “kuno”.

Perlu diketahui, di negara maju sudah memiliki bidang integrated science and technology sebagai salah satu jurusannya.  Bahkan di tingkat elementary school (sekolah dasar) juga mulai menjurus ke arah itu. Ternyata tidak hanya konsep manusia makhluk sosial saja, tapi segala ilmu dan teknologi juga perlu “bersosialisasi”.

Ok, setelah itu saya juga sempat berdiskusi mengenai sebuah konsep di perusahaan luar negeri (negeri-negeri makmur). Ternyata ada beberapa negara yang menerapkan gaji dari pegawai tertinggi dalam suatu perusahaan maksimal 50 kali lipat. Bandingkan dengan negara kita yang bisa mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan kali lipat gajinya.

Selain itu, tiba-tiba kami membicarakan tentang “pendidikan berbasis kompetensi” yang digulirkan pemerintah. Masalah itu malah menjadi bahan “tertawaan” kami. Alangkah bodohnya jikalau kita hanya bermain kompetensi saja tanpa integrasi. Hal ini malah hanya menjadi pencerdasan yang parsial. Pola pikir pun hanya menjadikan manusia-manusia menjadi budak-budak industri dan kapitalis.

Itu sekelumit diskusi dengan dosen wali saya, cukup menarik sampai-sampai saya tidak jenuh saat perwalian karena diisi dengan diskusi-diskusi bermutu dan penuh dengan pencerahan. Harapan beliau adalah kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus berusaha keluar dari jebakan-jebakan pikiran “kuno”. Dan kaum-kaum yang lebih tua juga harus berani beresiko dengan mempercepat regenerasi untuk menggantikannya dengan anak-anak muda yang berpikiran progressif dan berani.

8 thoughts on “Sekelumit Obrolan dengan Dosen Wali

  1. wew,, menarik nih, ane sendiri prefer integrasi daripada kompetensi. Tapi konsep integrasi juga ada pertentangan. Katanya “belajarlah sedalam-dalamnya, bukan sebanyak-banyaknya”.

    intinya sie dua-duanya perlu

    • kalau saya melihatnya sih kita tetap memperdalam ilmu spesialisasi kita, tapi juga sebisa mungkin menerapkan integrasi multi disiplin.
      saya pikir ini mungkin bisa jadi salah satu pemecahan masalah di bangsa kita.
      mungkin juga pernyataan-pernyataan tersebut keluar karena bidang saya di FT yang “meluas tapi tidak mendalam”.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s