Menikmati Ledakan Krakatau

Judul yang aneh. Sejak kapan ledakan menjadi suatu bentuk keindahan. Namun, apabila dijadikan sebuah bacaan akan indah pastinya apalagi dibahas secara komprehensif mengenai ledakan krakatau beserta efek-efeknya. Tidak percaya? Ah minimal saya akan coba membedahnya sedikit. Siapa tahu ada yang tertarik.

Menarik. Itu kata yang terikat di benak saya saat membaca buku berjudul “Krakatau, Ketika Dunia Meledak, 27 Agustus 1883” karya Simon Winchester. Apa yang membuat saya tertarik adalah sangat luasnya garapan penulisannya, bukan hanya dampak geologis, tapi juga dampak perubahan sosial, psikologis, politis, ekonomis bahkan seni. Seakan-akan semuanya baru terjadi kemarin. Dan anehnya seolah-olah saya bukan membaca buku ilmiah yang berat tapi seperti membaca cerita yang begitu mengalir penuh seni.

Krakatau, bangsa barat sering menyebutnya Krakatoa. Gunung yang indah namun berbahaya, ia yang sampai saat ini terus tumbuh semakin membesar dalam waktu hanya puluhan tahun dengan kecepatan sekitar 5 inchi perminggu. Saat meletus pada tahun 1883 menjadikannya ledakan terdahsyat dalam catatan sejarah pada manusia modern, gunung Krakatau pernah menewaskan 36.000 jiwa. Hebatnya lagi, berdampak pula terhadap iklim yang mampu menurunkan suhu bumi; mengubah penampilan langit bumi; ia membuat jarum barometer dan gelombang pasang-surut yang ribuan mil jauhnya ikut berjingkrak-jingkrak; ia membuat panik para pemadam kebakaran Amerika yang mengira harus memadamkan api neraka yang tengah mengamuk, padahal hanya pemandangan matahari tenggelam yang dipenuhi arak-arakan awan merah dari gunung Krakatau.

Kengerian ledakan Krakatau yang diceritakan oleh salah satu saksi mata cukup mengerikan. Awan putih yang membumbung tinggi dengan cepat dari pulau itu. Dalam setengah jam telah mencapai 11.000 meter dan membentuk sebuah payung yang menutupi langit sekitarnya. Kemudian debu-debu kelabu bertebaran menutupi kapal dan lautan. Kisah lain juga ada terjadinya Tsunami yang menyapu wilayah pantai lampung dan daerah Anyer sehingga menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Sungguh mengerikan.

Pada masa-masa menjelang letusan Krakatau, tentu saja bangsa kita masih dalam masa penjajahan. Pajak yang tinggi, kultuurstelsel, adalah makanan sehari-hari bangsa terjajah ini, dan tidak sepesr pun uang yang mengalir untuk mereka menikmatinya. Maka muncullah tulisan berjudul Max Havelaar yang ditulis oleh Eduard Dekker yang mengkritik perlakuan penjajahan yang tidak memperdulikan tanah jajahannya. Namun, tidak digubris oleh Belanda. Pada masa pasca setelah ledakan terjadi banyak sekali perlawanan-perlawanan terhadap para penjajah yang dimotori para haji yang telah melaksanakan haji di Mekkah. Dan kelompok ini dipimpim oleh seorang tokoh kharismatik yaitu Haji Abdul Karim. Perlawanan cukup dahsyat dan apalagi kalangan ulama sering menyatakan tentang masalah Imam Mahdi, wabah, banjir, gunung-gunug meletus sehingga membuat rakyat percaya dan terjadilah perang itu. Setelah dapat diatasi, barulah Parlemen Belanda tersadar mencoba menerapkan apa yang dikritisi oleh Eduard Dekker.

Hmm.. Baru sedikit yang terbahas namun jangan heran di buku ini juga mengaitkan dengan tsunami Aceh 2004, cikal bakal perkebunan karet di Indonesia, munculnya lukisan lanskap romantik Amerika aliran Hudson River, bahkan teori evolusi Darwin, plus cikal bakal revolusi komunikasi dan media, konsep global village. Penasaran? Jangankan Anda, saya pun penasaran ingin menjajaki wilayah Krakatau sebenarnya.

8 thoughts on “Menikmati Ledakan Krakatau

  1. menarik an,,,an tertarik baca the history of java nya stanford raffles??
    btw blog saya masih kosong an,,hehehe,,

  2. wah,, menarik,, jd pengen baca,,
    tapi d kamar kosan juga masih banyak buku yg belum beres d baca nih,, soalnya, datang satu buku, ada buku lain,, bacanya paralel jadinya ^^

    kebayang klo krakatau meletus aja dahsyatnya sudah seperti itu (menewaskan 36.000 orang),, asap membumbung sampai 11.000 m,, bahkan terlihat sampai di Amerika,,, bagaimana kalau itu kiamat beneran,, pastinya lebih dahsyat dari itu,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s